PANGKALPINANG — Pengembangan desa wisata tak cukup hanya mengandalkan keindahan destinasi. Kesiapan sumber daya manusia, termasuk kemampuan berkomunikasi dengan wisatawan, menjadi bagian penting untuk menciptakan pengalaman wisata yang berkesan. Hal tersebut menjadi salah satu fokus dalam Pelatihan Bahasa Inggris bagi Pemandu Wisata yang digelar Dinas Pariwisata, Kebudayaan, dan Kepemudaan Olahraga (Disparbudkepora) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) selama 10 hari, 20–29 Juli 2026, di Sun Hotel Pangkalpinang. Kegiatan ini diikuti oleh 10 peserta yang berasal dari tiga desa wisata yakni Desa Air Limau, Desa Rambat, dan Desa Pelangas.

 

Gubernur Kep. Babel, Hidayat Arsani, melalui Kepala Disparbudkepora Babel, Eko Kurniawan, mengatakan peningkatan kapasitas pemandu wisata merupakan bagian dari dukungan pemerintah dalam mengembangkan desa wisata, khususnya dalam menyiapkan SDM yang mampu memberikan pelayanan kepada wisatawan nusantara maupun mancanegara.

 

“Pengembangan desa wisata tidak hanya berbicara mengenai potensi destinasi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusianya. Pemandu wisata memiliki peran penting dalam memberikan pengalaman yang baik kepada wisatawan,” ujarnya.

 

Menurutnya, kemampuan Bahasa Inggris yang dimiliki para pemandu diharapkan dapat menjadi modal untuk meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus memperluas kesiapan desa wisata dalam menerima wisatawan mancanegara. Eko berharap peserta tidak berhenti belajar setelah pelatihan berakhir. Kemampuan yang diperoleh selama pelatihan perlu terus dipraktikkan dan diterapkan dalam aktivitas kepariwisataan di desa masing-masing.

 

Sementara itu, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Disparbudkepora Babel, Zaiyuni, mengapresiasi komitmen peserta yang telah mengikuti pelatihan hingga selesai selama 10 hari.

 

“Harapan kami, kompetensi para peserta semakin meningkat sehingga siap memandu wisatawan nusantara dan khususnya wisatawan mancanegara dengan Bahasa Inggris yang sesuai standar,” Ungkapnya. 

 

Ia meminta peserta tetap menggunakan Bahasa Inggris ketika kembali ke Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di desa masing-masing agar kemampuan yang telah diperoleh tidak hilang.

 

Zaiyuni juga mendorong peserta untuk membagikan pengetahuan kepada masyarakat sekitar. Salah satunya dengan membuat kegiatan sederhana bertema Bahasa Inggris bagi anak-anak sekolah dasar di desa masing-masing.

 

“Berikan sumbangsih kepada masyarakat sekitar, misalnya dengan melakukan kegiatan bertema Bahasa Inggris kepada anak-anak SD di desa masing-masing,” ujarnya.

 

Dengan bekal tersebut, peserta diharapkan tidak hanya menjadi pemandu wisata yang lebih kompeten, tetapi juga mampu menjadi bagian dari penggerak pengembangan pariwisata di desa masing-masing.